Tampilkan postingan dengan label Sya'iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sya'iran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

Pantun Setengah Sya'ban

Hidup ini cuma sebentar
Tunaikanlah amanah tanpa gentar
Jangan ditunda entar-entar
Keburu Izrail datang bagai halilintar

Hidup ini sungguh tidak lama
Entah berapa lama masih bersama
Ketimbang jadi orang ternama
Lebih baik mengabdi pada sesama

Dunia ini cuma panggung sandiwara
Tapi banyak yang merasa sombong tiada tara
Lupa berbagi peran untuk sesama saudara
Padahal semua telah diatur oleh Sang Sutradara

Dunia ini cuma senda gurau belaka
Jangan tertipu berbagai prasangka
Tak lama lagi kita masuk ke alam baka
Apalah guna kalau di akherat kita celaka

Kawan, Nisfu Sya'ban telah tiba
Pada kasih sayangNya kita mengiba
Karena sejatinya kita cuma hamba
AmpunanNya selalu kita damba

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan dosen senior Monash Law School

Selasa, 19 April 2016

Syair-syair hikmah KH.Abdul Wahid Hasyim


KH Abdul Wahid Hasyim termasuk tokoh yang gemar mencatat. Tak heran, sejumlah pantun dan sajak kesukaannya dalam berbagai bahasa tetap tersimpan rapi hingga sekarang. Beberapa syair hikmah berbahasa Arab berikut adalah sebagain warisan berharga dari ulama dan pahlawan nasional ini.
<>

وَلَا شَيْءٌ يَدُوْمُ فَكُنْ حَدِيْثاً # جَمِيْلَ الذّكْرِ فَالدُّنْيَا حَدِيْثُ
Tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita

أَلَا لِيَقُلْ مَا شَاءَ مَنْ شَاءَ إِنّماَ # يُلاَمُ الفَتىَ فِيْمَا اسْتَطَاعَ مِنَ اْلأَمْرِ
Ungkapkanlah apa yang ingin diungkapkan. (Jangan ragu) pemuda memang selalu dicemooh lantaran kecakapannya.

ذَرِيْنِيْ أَنَالُ مَا لَا يُناَلُ مِنَ اْلعُلَى # فَصَعْبُ العُلىَ فِي الصَّعْبِ وَالسَّهْلُ فِي السَّهْلِ
تُرِيْدِيْنَ إِدْرَاكَ المَعَالِي رَخِيْصَةً # فَلَا بُدَّ دُوْنَ الشَّهْدِ مِنْ إِبْرِ النَّحْلِ�
Biarkan aku meraih kemuliaan yang belum tergapai. Derajat kemuliaan itu mengikuti kadar kemudahan dan kesulitannya. Engkau kerap ingin mendapatkan kemuliaan itu secara murah. Padahal pengambil madu harus merasakan sengatan lebah.

سَتُبْدِيْ لَكَ الأَيَّامُ مَا كُنْتَ جاَهِلاً # وَيَأْتِيْكَ بِاْلأَخْبَارِ مَا لَمْ تُزَوِّدِ�
Kelak waktu akan memperlihatkan dirimu sebagai orang yang bodoh, dan membawakan kabar untukmu tentang perbekalan yang kosong.

لَقَدْ غَرَسُوْا حَتَّى أَكَلْناَ وَإِنَّناَ # لَنَغْرَسُوْا حَتَّى يَأْكُلَ النَّاسُ بَعْدَنَا
Para pendahulu telah menanam sehingga kita memakan buahnya. Sekarang kita juga menanam agar generasi mendatang memakan hasilnya.

إِذَا فَاتَنِيْ يَوْمٌ وَلَمْ أَصْطَنِعْ يَدًا # وَلَمْ أَكْتَسِبْ عِلْماً فَمَاذَاكَ مِنْ عُمْرِيْ
Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?

============

  Ketokohan KH Abdul Wahid Hasyim tentu sulit diingkari. Dalam usia 21 tahun, Wahid  muda sudah membuat terobosan-terobosan cemerlang di dunia pendidikan, utamanya pesantren.
<>Ketika bergabung di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), usianya baru genap 25 tahun. Namun setahun kemudian, Wahid justru mengetuai federasi organisasi massa dan partai Islam ini.

Karir perjuangannya menanjak cepat. Wahid turut memimpin PBNU, menjadi anggota BPUPKI, dan akhirnya ditunjuk sebagai menteri agama. Artinya, selain berjihad menumpas kaum penjajah, Wahid terlibat aktif dalam segenap tahapan paling menentukan dalam proses pendirian negara.

Masa-masa hidup Wahid hampir dihabiskan seluruhnya dengan penuh manfaat. Ulama dan tokoh nasional ini tutup usia pada 19 April 1953, sebelum ulang tahunnya yang ke-38 diperingati. Berikut ini adalah sejumlah syair inspiratif pegangannya, yang sarat pesan perjuangan, kerja keras, penghargaan atas waktu, cita-cita, serta keinsafan tentang dinamika hidup.

وَلَمْ أَجِدِ الْإِنْسَانَ إِلاَّ ابْنَ سَعْيِهِ # فَمَنْ كَانَ أَسْعَى كَانَ بِالْمَجْدِ أَجْدَرَا
وَبِاْلهِمَّةِ العُلْيَا تَرَقَّى إِلَى العُلىَ # فَمَنْ كَانَ أَعْلَى هِمَّةً كَانَ أَظْهَرَا
وَلَمْ يَتَأَخَّرْ مَنْ أَرَادَ تَقَدُّماً # وَلَمْ يَتَقَدَّمْ مَنْ أَرَادَ تَأَخُّرَا

Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

وَلَا تَحْتَقِرْ كَيْدَ الضَّعِيْفِ وَرُبَّمَا # تَمُوْتُ الأَفَاعِي مِنْ سُمُومِ العَقَارِبِ
وَقَدْ هَدَّ قِدْماً عَرْشَ بُلْقِيْسَ هُدْهُدٌ # وَخَرَّبَ حَفْرُ الفَأْرِ سَدَّ الْمَأرِبِ

Jangan remehkan siasat sesuatu yang (tampak) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh racun kalajengking. Ternyata, burung Hudhud sanggup menumbangkan singgasana ratu Bulqis, dan liang tikus mampu meruntuhkan bangunan kokoh.

وَمِنْ عَادَةِ اْلأَيَّامِ أَنَّ خُطُوْبَهَا # إِذَا سُرَّ مِنْهَا جَانِبٌ سَاءَ جَانِبُ

Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya.

بِذَا قَضَتِ الْأَيَّامُ مَا بَيْنَ أَهْلِهَا # مَصَائِبُ قَوْمٍ عِنْدَ قَوْمٍ فَوَائِدُ
عَرَفْتُ سَجَايَا الدَّهْرِ أَمَّا شُرَوْرُهُ # فَنَقْدٌ وَأَمَّا خَيْرُهُ فَوعُوْدُ

Begitulah waktu menentukan takdir untuk penghuninya (manusia). Musibah bagi sekelompok orang adalah keberuntungan bagi kelompok lain. Aku sudah mafhum dengan kelakuan zaman yang sekilas ini: keburukannya merupakan kritik, sedangkan kebaikannya hanyalah janji.

فَإِنَّ غُبَارَ الصَّافِنَاتِ إِذَا عَلاَ # نَشَقْتُ لَهُ رِيْحاً ألَذُّ مِنَ النَّدِّ
وَرَيْحَانَتِي سَيْفِيْ وَكَأْسَاتُ مَجْلِسِيْ # جَماَجِمُ سَادَاتٍ حِرَاصٍ عَلَى الْمَجْدِ

Ketika debu kavaleri berhamburan, aku justru menghirup keharuman yang melampaui wangi kemenyan. Semir mata pedang dan gelas-gelas di meja rapatku pun menjelma tengkorak para pembesar (musuh) yang rakus kejayaan.

جَزَى اللهُ خَيْراً كُلَّ مَنْ لَيْسَ بَيْنَنَا # وَلَا بَيْنَهُ وُدٌّ وَلَا مُتَعَرِّفُ
فَمَا نَالَنِي ضَيْمٌ وَلَا مَسَّنِي أَذَى # مِنَ النَّاسِ إِلاَّ مِنْ فَتَى كُنْتُ أَعْرِفُ

Semoga Allah melimpahkan kebaikan pada setiap manusia yang belum saling sayang dan saling kenal. Tak pernah aku mengeluh dan diterpa kesulitan kecuali dari orang yang sudah aku kenal.

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَابْنَ آدَمَ بَاكِياً # وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُوْنَ سُرُوْرًا
فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُوْنَ إِذَا بَكَواْ # فِيْ يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكاً مَسْرُوْراً

Saat bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria.

==============

KH Abdul Wahid Hasyim adalah pribadi yang kuat. Ternyata kakakter ini tak hanya berlaku dalam hal mental dan prinsip belaka. Secara ekonomi putra Hadlaratus Syaikh Hasyim Asy’ari ini pun tergolong kuat.<>

Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, Kiai Wahid bersusah-payah bergerilya lewat beragam cara ke berbagai pelosok Nusantara. Seluruh biaya keluar dari kantong sendiri. Tanpa kondisi ekonomi yang mapan, perjuangan bertahun-tahun yang menguras keringat, ongkos, dan pikiran ini niscaya tak akan jalan.

KH Saifuddin Zuhri pernah dibuat heran dengan guru dan pemimpinnya ini. Saat Jepang bermurah hati memberi Kiai Wahid mobil dinas terkait jabatan Shumubu-cho, ia menolak memakai dan memilih membeli mobil sendiri.

“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” tanya Kiai Saifuddin. Ketika itu hampir tidak ada seorang sipil pun yang memiliki mobil.

“Ya Allah! Kalau soal beli mobil saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Kiai Wahid tegas.

Sepertinya Kiai Wahid memegang teguh prinsip umat Islam tak boleh lemah secara ekonomi. Hal ini penting untuk menopang daya tahan dan nafas perjuangan. Tak aneh jika Kiai Wahid yang sehari-hari terkenal hidup sederhana dikisahkan berprofesi sebagai pedagang.

Dalam hal ini. kami nukilkan syair-syair yang ditemukan dalam catatan tokoh nasional ini. Secara umum syair hikmah berikut berpesan tentang semangat yang digambarkan di atas.

إِنْ قَلَّ مَالُ اْلمَرْءِ قَلَّ بَهَاؤُهُ # وَضَاقَتْ عَلَيْهِ أَرْضُهُ وَسَمَاؤُهُ
فَأَصْبَحَ لَايَدْرِيْ، وَإِنْ كَانَ حَازِماً # أَقُدَّامُهُ خَيْرٌ لَهُ أَمْ وَرَاءُهُ

Ketika sedikit kekayaan seseorang, sedikit pula kebanggaannya; bumi dan langitnya (medan geraknya) menyempit. Meski biasanya teguh, tapi kemantabannya hilang: majukah atau mundurkah yang terbaik?

إِنْ قَلَّ مَالِي فَلَا حِلٌّ يُصَاحِبْنِيْ # إِنْ زَادَ مَالِي فَكُلُّ النَّاسِ إِخْوَانِي

Saat kekayaanku sedikit tak seorang pun bersahabat denganku. Saat kekayaanku meningkat semua orang (ingin) menjadi saudaraku.

عَجِبْتُ لِأَهْلِ اْلعِلْمِ كَيْفَ تَغَافَلُوا # يُجِرُّوْنَ ثَوْبَ الْحِرْصِ عِنْدَ اْلمَمَالِكِ
يَدُوْرُوْنَ حَوْلَ الظَّالِمِيْنَ كَأَنَّهُمْ # يَطُوْفُوْنَ حَوْلَ الْبَيْتِ عِنْدَ اْلمَنَاسِكِ

Aku heran kepada para cendekiawan/ulama. Bagaimana mereka lupa; menggelar jubah ketamakan di hadapan para penguasa, mengerumuni para penindas bak rombongan haji yang sedang tawaf di sekitar Ka’bah.

وَقَدْ تَنْفَعُ الذِّكْرَى إِذَا كَانَ هَجْرُهَا # دِلَالاً وَإِمَّا إِنْ مِلَالاً فَلَا نَفْعَا

Peringatan mungkin bermanfaat (efektif) untuk orang yang tengah merajuk, tapi tidak untuk orang yang sedang bosan.

سَجَدْنَا لِلقُرُوْدِ رَجَاءَ دُنْيَا # حَوَتْهَا دُوْنَنَا أَيْدِي اْلقُرُوْدِ
وَلَمْ تَرْجَعْ أَنَامِلُنَا بِشَيْءٍ # رَجَوْنَاهُ سِوَى ذُلِّ السُّجُوْدِ

Kita relakan sujud kepada para monyet demi dunia yang ada di pelukan mereka. Jari-jari kita pun pulang tanpa hasil apa-apa, kecuali sujud yang hina belaka.

Mahbib Khoiron
Syair-syair dikutip dan diterjemah ulang dari
KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama, Bandung: Mizan, 2011

Selasa, 16 Februari 2016

Sya'i pepeling (3)

Hayu geura saradia
Meungpeung keur hirup di dunya
Amal keur sampeureun tea
Di ahir moal sulaya

Geuning maot ngadodoho
Boro sok dipoho-poho
Datangna teu mere nyaho
Ngageretek taya tempo

Taya beurang taya peuting
Taya raja taya kuring
Di mana ajal geus sumping
Teu meunang embung anaking

Horeng nyawa eujeung badan
Nu geus lila babarengan
Datang mangsa pipisahan
Paturay tineung pamitan

Lain meuran lain sugan
Da ieu mah kanyataan
Kabeh pasti ngarandapan
Geuning awak urang pisan

Kaget reuwas mata mencrong
Renghap ranjug munggah bengong
Napas ngangseg na genggerong
Nu deukeut geus teu katembong

Horeng ieu teh sakarat
Dicabut ku malaikat
Nyawa ngangsek mapay urat
Teu aya daya keur lumpat

Ku renghap nu panganggeusan
Pegat sakabeh harepan
Nabengkang taya dayaan
Rek kumaha pangharepan

Boro mah keur suka bungah
Ngatur nafsu seuri bungah
Beak tempo kudu pindah
Nyampeurkeun ka alam barjah

Geus waktu ninggalkeun lembur
Menuju ke alam kubur
Meunang ngali geus diukur
Mahi keur awak sakujur

Rek naon anu di bawa
Duit loba sawah lega
Menang ngumpul-ngumpul tea
Belaan nipu pasea

Meunang tisusuk tisandung
Nu sok dipake adigung
Kana salat matak liwung
Waktuna jakat mah embung

Ibadah katoler-toler
Nepi ka nyanghulu ngaler
Lapur badan enggas komper
Di tengah imah ngagoler

Ngajolopong diruruban
Diriung ditarungguan
Geumpeur pacampur jeung reuwas
Setan mah bati mupuas

Harta anu ngunung-ngunung
Pakean duit satungtung
Ngan masih boeh asiwung
Ditambah kai keur padung

Lawang amal geus ditutup
Hanjakal keur waktu hirup
Talangke bet hanteu sanggup
Padahal waktu mah cukup

Paingan rosul ngelingan
Dunya mah pangumbaraan
Naha bet kamalinaan
Tonggoy hanteu nyubadanan

Ati ngerik pikir liwung
Imah tiiseun jeung suwung
Ngan anak yatim buruang
Tinggarisik ting rariung

Abong poe panganggeusan
Mana beurat rek amitan
Keun imah keun pakarangan
Geuwat keun logak ngantosan

Pasaran mendung dipayung
Ti luhur dirurub sarung
Nu ngiringna semu nguyung
Nangkeup dada tingkuyungkung

Ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut
Beuki deukeut beuki deukeut
Beuki deukeut beuki deukeut
Kana logak rupek heureut

Duh geuning enggeus nyangkorah
Rup ku padung rap ku lemah
Poek rupek jeung tugenah
Ngarumas cukireuh susah

Ahli sobat kawawuhan
Teu tolih gancang bubaran
Duh saha nu rek maturan
Geusan cicing babarengan

Mana sobat mana dulur
Geuning buriak salembur
Hanteu maturan di kubur
Sumawon nambahan umur

Oge harta banda kuring
Nu dipuhit buerang peuting
Cik mana anu rek ngaping
Geuning geus kieu mah kuring

Hanjakal aduh hanjalak
Teu getol sadia amal
Padahal geuning padahal
Ngan amal nu jadi bekel

Naon keur panyinglar sedih
Nahan ku cimata getih
Tawa bangkieung jungkelih
Harta mah geuning teu nolih

Enggeus montong rek sasambat
Teu guna enggeus kaliwat
Bongan bareto teu toat
Teu kurang nu nganasehat

Tong hantem hahanjakalan
Pan teu kurang nu ngelingan
Pek runggu jawab sorangan
Geura jawab pariksana

Paremutan parantosan
Mangga geura aremutan
Sugan manawi jeung sugan
Ngajadi kamaslahatan

Ku maca ieu pepeling
Muga sing jadi panggeuing
Da Gusti anu ngajaring
Siang jeung wengi diaping

المدد ( ادركني )

ْ
كُلُّ الْقُــلُوب ...
كُلُّ الْقُــلُوبِ إِلَى الْحَبِيْبِ تَمِيلُ
كُلُّ الْقُــلُوبِ إِلَى الْحَبِيْبِ تَمِيلُ
وَمَعِي بِذَلِكَ شَاهِدٌ ...
... شَاهِدٌ وَدَلِــيْلُ
أَمَّا الدَّلِـــيلُ إِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا
صَارَتْ دُمُوعُ الْعَاشِقِينَ تَسِيلُ
هٰذَا رَسُولُ الله ...
هٰذَا رَسُولُ الله ...
هٰذَا الْمُصْطَفىٰ ...
هٰذَا لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلِيلُ ...

اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدَ ، اَلْمَدَدْ يَارَسُولَ الله
اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

رَبِّ فَاجْعَلْ مُجْتَمَعْنَا .
غَايَة حُسْن الْخِتَامْ .
اَكْرِمِ الاَرْوَاحَ مِنَّا .
بِلِقَاء خَيْرِ الاَنَامِ .

اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدَ ، اَلْمَدَدْ يَارَسُولَ الله
اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

رَبِّ إِنَّا قَدْ دَعَوْنَا .
إِعْطِنَا مَا قَدْ رَجَوْنَا .
هَبْ لَنَا فِي الدِّيْنِ عَوْنَا .
بِالصَّلاَةِ عَلىٰ مُحَمَّدْ .

اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدَ ، اَلْمَدَدْ يَارَسُولَ الله
اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله
اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدَ ، اَلْمَدَدْ يَارَسُولَ الله
اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ ، اَلْمَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَارَسَولَ الله
مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

سِيدِى صَحِبَ الْحَضْرَة .
اَكْرِمْنَا مِنْكَ بِنَظْرَة .
سِيدِى يَا اَبَ الزَّهْرَأ .
وَالْقَاسِيمِ وَعَبْدِالله .

مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَارَسَولَ الله
مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

سِيدِى اَنْتَ الْحَبِيْب .
بِذِكْرِكْ قَلْبِ يَا طِيْب .
سِيدِى حَاشَ يَا خِيْب .
مَنْ لَها بِرَسُوْلِ الله .

مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَارَسَولَ الله
مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

سِيدِى اَنْتَ الْمُخْتَار .
بِمَدْحِكْ تُجْلَ الاَقْدَار .
سِيدِى جِرْناَ مِنَ النَّارِ .
بِجَاهِك يَا رَسْولَ الله .

مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَارَسَولَ الله
مَدَدْ ، مَدَدْ ، مَدَدْ يَاحَبِيْبَ الله

يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .

وَارْحَمْ يَا اَكْرَامَ مَن رَّحِمَ .
عَبْدًا عَن بَابِكَ لَمْ يَعُجِ .
وَاخْتِمْ عَمَلِى بِخَوَاتِمِهَا .
ِلأَكُونَ غَدًا فِى الْحَشْرِ نَجِى .

يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .

لَكِنّي بِجُودِكَ مُعْتَرِفٌ .
فَاقْبَل بِمَعَاذِرِي حُجَجِي .
وَإِذَا ِبكَ ضَاقَ الأَمْرُ فَقُلْ .
اِشْتَدِّي أَزْمَةُ تَنْفَرِجِي .

يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .
يَا رَبِّ بِهِم وَبِأَلِهِمِ .
عَجِّلْ بِالنَّصْرِ وَبِالْفَرَجِ .

Senin, 15 Februari 2016

Syair Pepeling (2)

Nurul Hikmah

Ka Alloh abdi nyalindung, tina panggodana setan.
kalayan asma Nu Agung, Alloh Anu Welas Asih.

-Alloh-

1. ALLOH ANU MAHA UNINGA

Alloh Nu Maha Uninga,
Kana sadaya dawuh-Na,
Mungguhing urang manusa,
Wajib kedah percantenna.

Kana Qur’an ulah hamham,
Ulah waswas ragu-ragu,
Upami urang mihamham,
Tangtos urang buntu laku.

Sadaya umat Pangeran,
Kedah kenging tuduh jalan,
Numawi lumungsur Qur’an,
Pikeun tuduh jalan iman.

Tawisna nu takwa to’at,
Yakin ayana aherat,
Solatna teh tara pegat,
Ku Alloh tangtos dirahmat.

2. SILIH BAGI REJEKI

Mun urang nampi rejeki,
Rejeki pabagi-bagi,
Sasama ge kabagean,
Rejeki silih agehan.

Jelema nu iman mu’min,
Panceg percaya tur yakin,
Kitabulloh nu baheula,
Eta ge dawuh Mantenna.

Jelema nu iman mu’min,
Yakinna aenal yakin,
Yen engke teh hirup deui,
Bakal deuheus ka Ilahi.

3. PITUDUH TI ALLOH SWT

Mungguhing nu iman takwa,
Kenging pituduh Mantenna,
Hirupna kenging panungtun,
Henteu lesot ti panuyun.

Eta teh bagja utama,
Rahmat teu kinten ageungna,
Mulus salamet hirupna,
Kenging pituduh Mantenna.

Nu kitu hirup rahayu,
Kenging pituduh lumaku,
Moal sasar katambias,
Moal hamham moal waswas.

4. ULAH NGABEDUL

Jelema anu mantangul,
Hirup nyuruntul ngabedul,
Hese dibere pepeling,
Langlang-lingling lir teu eling.

Mangeran kana nafsuna,
Ngagugulung kahayangna,
Aturan kabeh dirumpak,
Ngaruksak jeung ngagalaksak.

Lajeng ku Alloh ditutup,
Kalbu dibulen dirungkup,
Hatena teh ditulakan,
Pangreungeuna dicocokan.

Batin jadi kurunyinyi,
Tebih ti hidayah Gusti,
Cilaka estu cilaka,
Jalma nu kitu lampahna.

5. GANCANG OMEAN

Seueur pisan kajantenan,
Ngaku-ngaku panceg iman,
padahal gagaleongan,
Kaimanan reureundahan.

Sering pisan kaalaman,
Pura-pura ngaku iman,
ari lampah euwah-euwah,
Kitu salah kieu salah.

Lamun nyieun kasalahan,
Pek omean gagancangan,
Gancang menta dihampura,
Ka Alloh Maha Kawasa.

Kitu lampah sasab pisan,
Tetela nipu sorangan,
Tapi tong peunggas harepan,
Nu salah gancang omean.

6. SIPATNA JELEMA ANU MUNAPEK

Jalma munapek sipatna,
Mun leukeun nitenanana,
Sok resep nyieun alesan,
Keur nutupan kasalahan.

Kasalahan diteumbleuhkeun,
Geugeuleuh dika-baturkeun,
Jatena pinuh werejit,
Kotor jeung pinuh rurujit.

Mun hareupeun ngomong hade,
Tukangeun mah ngalelewe,
Nu kitu tong jadi sobat,
Sabab mindeng ngahianat.

7. ULAH JALIR JANGJI

Lamun urang gaduh jangji,
Kade ulah lanca-linci,
Subaya kedah cumponan,
Sabab eta kahormatan.

Jelema nu jalir jangji,
Eta teh sami saharti,
Reujeung ngaruksak pribadi,
Henteu ngajenan ka diri.

Nu teu pageuh kana jangji,
Nu kitu munapek pasti,
Hirupna moal jamuga,
Bakal pinanggih tunggara.

8. NGAJAGA LETAH

Kade jaga eta letah,
Sabab mindeng mawa salah,
Seukeutna leuwih ti pedang,
Raheutna matak gudawang.

Loba nu meunang cilaka,
Lantaran tina ngomongna,
Ngomong teu dipikir heula,
Tangtu hanjakal ahirna.

Ngomong ngabuih ngabudah,
Mindingan lampah nu salah,
Ngaku-ngaku iman takwa,
Padahal reka perdaya.

Iman ukur kaheureuyan,
Kawas bunglon lolondokan,
Kitu peta salah pisan,
Kudu gancang dijauhan.

9. ULAH NGAHEUREUYKEUN AYAT

Mangkade ulah mokaha,
Ngaheureuykeun pidawuh-Na,
Dipake ocon guguyon,
Kitu peta estu awon.

Jalma ngaheureuykeun ayat,
Moal pinarinan rahmat,
Jeung moal kenging syafa’at,
Sabab ngaheureuykeun ayat.

Ayat teh dawuhan Gusti,
Lenyepan mangka kaharti,
Sangkan urang ulah rugi,
Hirup jadi ngandung harti.

Ayat ulah diheureuykeun,
Kuduna teh dihartikeun,
Sangkan hirup ulah rugi,
Tur kenging rido Ilahi.

10. PALITA ANU TEU CAHAYAAN

Kumaha pibakaleunana,
Lamun pareng hiji mangsa,
Urang teh nyeungeut palita,
Tapi teu caang sinarna

Kotret deui cekres deui,
Ngahurungkeun korek api,
Pareum deui pareum deui,
Poek deui poek deui.

Rajeun palitana hurung,
Tapi kalah tambah bingung,
Sabab cahayana musna,
Poek mongkleng buta rata.

Kitu minangka misilna,
Nu munapek ibaratna,
Lolong lahir jeung batinna,
Sasab dunya aheratna.

Sya'ir Pepeling ( 1 )

_Bismillah janten wiwitan,
ieu sya'iran nadzoman,
carita di akhir zaman,
pinuh ku kamaksiatan,
_akhlaq moral para jalma,
kantos awon kapandangna,
conto contona geus loba,
balatak di mana mana,
_pembunuhan perjudian,
miras rejeung perzinahan,
dugikeun ka loba korban,
sabab akhlaq jalma edan,
_perkosaan pencopetan,
rajeun oge penculikan,
jelema kapengpeongan,
ku akhlaq awon sorangan,
_geus teu sieun kana dosa,
teu sieun kanu kawasa,
hirup ngareunah di dunya,
calon pangeusi naraka,
_sabab awon dina gaul,
janten jalma baragajul,
hirup ngaler rejeng ngidul,
pamaksiateun di agul,
_para pamuda lalaki,
gaulna ge beda deui,
batur mah ka majlis ngaji,
ieu kalah maen judi,
_pamuda oge garetol,
getol nginuman alkohol,
dicampur ku cai botol,
tambahan ku obat bentol,
_atawa maraen gitar,
kamana mana kawentar,
nongkrong digalur ngajajar,
rarajeunan osok ngampar,
_manjing saban waktos magrib,
pamuda oge tarertib,
ngobrol bae sing arajib,
dimana mana kantos ghalib,
_ulin katempat teu beneur,
kana maksiat mah ginceur,
ngahiji jeung budak badeur,
tung2na marabok eukeur
_para istri nu ayeuna,
ABG na rata rata,
ulin pagaweanana,
wani nyentak ka kolotna,
_pajarkeunna eta gaul,
u-ulinan bari ngebul,
ngahiji jeung jalma bahlul,
tung2na beteung ngabendul,
_teu di tiung ge teu aneh,
zaman ayeuna geus akeh,
loba istri anu repeh,
ku tontonan anu ngoceh,
_boroning anu di tiung,
komo deui nu di cindung,
akhlaq awon hirup linglung,
tung2na beuteung melenung,
_zaman kiwari mah edan,
loba ku pamaksiatan,
nu teu sieun ka Pangeran,
Na'udzubillah jauhan,
_naraka tempatna siksa,
pikeun jalma nu doraka,
antara nu henteu taraqwa,
taqwa ka anu kawasa,
_kumantak geura areling,
dunya teh tereh tiguling,
jalma-jalmana ngacamling,
kudu sieun hey anaking,
_hayu urang tararobat,
kantunkeun eta maksiat,
meh ku Allah teu di laknat,
di dunya rejeung akherat,
_kedah emut kana maot,
sareng emutan ka kolot,
kana dosa tong molotot,
amalan sholeh tong ro`ot,
_kahirupan urang didunya,
ngan sakeudeung henteu lila,
nu hartosna samentara,
kana dosa tong kabawa,
_dunya mah ukur jambatan,
keur ibadah ka Pangeran,
didunya teh nyengcelengan,
amalan sholeh lakonan,
_urang ulah ka barawa,
kabawa sa kaba-kaba,
jauhan perkara dosa,
sing harade dina taqwa,
_amalan sholeh lakonan,
eta anu leres pisan,
masing du'a ka Pangeran,
teubihkeun godaan setan,
_kade dina amal sholeh,
kedah terang elmu maneh,
ngarah manfa'at nu akeh,
elmu amalna sakabeh,
_kedah teurang kana elmu,
ngarah ibadah tarimu,
ibadah oge saliru,
mun elmu tacan patemu,
_dimana milari elmu,
nyata di majlis di tuju,
geura ngaos ka pun guru,
ngaos ikhlas bari khusu,
_dupi uninga elmu mah,
bakal leres na ibadah,
ibadahna oge genah,
ku elmu mah moal salah,
_kantunkeun hal anu awon,
ulah mikir naon-naon,
ka majlis urang nyelegon,
nyata ngaos eta cumpon,
_ngaos lain pikeun santri,
atawa pikeun kiyai,
tapi keur sadaya jalmi,
nu muslim dina agami,
_kusabab elmu teh penting,
keur sadaya hey anaking,
urang ka majlis pek kuping,
tong heureuy angguran cicing,
_dupina sya'iran buntung,
ieu anu janten tungtung,
pamugi janten pitulung,
ti Gusti nu maha Agung,
_hapunteun anu kasuhun,
bilih lepat dina ngintun,
lamun kirang sopan santun,
punten pisan hatur nuhun,

Fähmý Sýå'îdäñ As-sýärqî
Bogor