Tampilkan postingan dengan label Hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

Kajian Al-Hikam - hikmah ke 58

KETA'ATAN / IBADAH KITA ADALAH PEMBERIAN ALLOH

- tulisan ini dibuat oleh admin (santri), sebagian diambil dari uraian Kajian Al-Hikam pangersa Uwa (KH.Zainal Abidin Bazul Asyhab)

لاتفرحك الطاعة لانها برزت منك وافرح بها لانها برزت من الله اليك قل بفضل الله وبرحمته فبذالك فليفرحوا هو خير مما يجمعون (الحكم ج ١ ص ٤٤)

Janganlah keta'atanmu membuatmu bahagia karena ia lahir darimu, dan berbahagialah dengannya karena ia datang dari Alloh kepadamu. Katakanlah "dengan karunia dan rahmat Alloh maka hendaklah mereka berbahagia, hal itu lebih baik daripada apa yg mereka kumpulkan."

Penjelasan singkat :
Sebagian umat islam ada yang merasa bahagia karena terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat duniawi dan syahwat seperti punya pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi, rumah megah, mobil mewah, istri wah, harta berlimpah, disanjung orang, dan lain sebagainya. Semua itu tidaklah dilarang dalam islam, namun ketika hal tersebut tidak digunakan untuk beribadah kepada Alloh maka kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, bahkan termasuk kedalam orang-orang yang tertipu.
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. " (QS, Al-Hadid : 20)

Ada juga sebagian umat islam yang setingkat lebih baik, yaitu yang menemukan kebahagiaannya dalam keta'atan kepada Alloh.
Syekh zainuddin al mulaibari dlm nadzom syu'abul iman mnyebutkan

اخلص لربك ثم سر بطاعة        واحزن بسوء تب وانت النادم

Ikhlaskanlah (ibadahmu) untuk Tuhanmu, lalu hendaklah berbahagia karena melakukan ta'at.
Dan bersedihlah karena melakukan kejelekan, kemudian bertobatlah disertai keadaan kamu yang perihatin.

Bahagia karena melakukan keta'atan itu sudah baik, namun tingkatkan lagi. Jangan berhenti sampai disana.
Dalam kutipan hikmah dari kitab Al-Hikam syekh Ibn Athoillah yang saya sebut di awal tulisan, bisa difahami bahwa Kebahagiaan seseorang karena telah melakukan keta'atan/ibadah terbagi dua :

1. Orang yg bahagia melakukan keta'ataan karena ia beranggapan bahwa dengan ilmunya, kekuatannya ia telah mampu melakukan keta'atan tsb.
2. Orang yg bahagia telah melakukan ketaata'atan karena ia merasa bahwa ia telah mendapatkan karunia dan kasih sayang Alloh sehingga mampu beribadah.

Tipe orang pertama berkeyakinan bahwa ibadah tersebut terwujud oleh dirinya, ia melakukannya dengan kemampuan dan kekuatan sendiri, sedangkan hatinya samasekali tidak tembus kepada Alloh, maka hati orang seperti ini rentan disusupi ujub (merasa hebat karena mampu beramal), riya (mencari kedudukan dihati manusia) dan takabur (berbangga diri dan menyepelakan orang lain) yang dapat menghanguskan pahala amal ibadah tersebut, apa yang ia lakukan tidak akan menjadikannya dekat dengan Alloh. Bahkan syekh Ibn Athoillah memasukannya kedalam golongan orang yang kufur nikmat.
Tetapi walau bagaimanapun juga orang- orang seperti ini masih lebih bagus dibanding orang yang tidak beribadah samasekali.

Tipe orang kedua berkeyakinan bahwa ibadah yang telah ia lakukan itu terwujud oleh Alloh, karena pertolongan Alloh kepadanya. Alloh yang telah memberi hidayah sehingga hatinya tergerak untuk beribadah, Alloh pula yang menggerakkan anggota badannya untuk beribadah. Laa haula walaa quwwata illa billah telah melekat dalam hatinya, Maka tidak akan muncul perasaan ujub riya atau takabur dalam hatinya. Hanya orang kurang sehat aqalnya yang mengakui keberhasilan sebuah pekerjaan yang bukan dilakukan olehnya.
والله خلقكم وما تعملون (الصفات : ٩٦)
"Alloh lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan. " (QS Ash-Shofat :96)

Marilah kita sama-sama meningkatkan kualitas ketaatan kita kepada-Nya dengan belajar ;
1. Lillah (karena Alloh)
2. Billah (oleh Alloh)
3. Ilalloh (menuju Alloh)

Sabtu, 13 Februari 2016

MENYIKAPI PERMASALAHAN HIDUP


ربما وجدت من المزيد فى الفاقات مالا تجده فى الصلاة والصوم

"Terkadang kamu menemukan suatu limpahan dari berbagai faqoh, yang tidak kamu temukan dalam sholat dan puasa"

Dalam menjalani kehidupan, siapapun orangnya pasti akan menemukan masalah; ekonomi terpuruk, dililit hutang, terancam PHK, masalah keluarga, sulit punya anak, sampai susah mendapatkan pasangan hidup dan banyak lagi masalah-masalah lain.
Dalam istilah kitab al hikam, kesulitan-kesulitan atau masalah tersebut dikenal dengan faqoh.

Banyak orang tidak menyukai faqoh, karena tidak enak bagi nafsu dan bertentangan dengan syahwat. Banyak pula orang yang salah dalam menyikapi faqoh tsb; mengeluh, putus asa menyalahkan taqdir bahkan ada yang sampai bunuh diri. Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapi faqoh?
Sekurang-kurangnya ada dua sikap yang harus kita ambil :

1. Muhasabah/Instropeksi diri; mungkin faqoh tsb menimpa kita karena kesalahan kita sendiri, misalkan kurang baik dalam memenuhi kewajiban kita kepada Alloh, atau kewajiaban kita selaku makhluk sosial. Maka segera perbaikilah !

2. Meluruskan pemahaman tentang faqoh, memandang faqoh sebagai suatu hal yg positif

Pada hikmah yang disebutkan di awal, syekh ibn athoillah assakandari ra. memberi pemahaman positif sekaligus memberi kita motivasi agar optimis dalam menghadapi faqoh. Beliau mengungkapkan bahwa terkadang didalam faqoh kita mendapatkan limpahan dari Alloh yang tidak kita dapatkan dari sholat dan shaum, diantaranya berupa bersihnya qalbu, sucinya sir serta kedekatan dengan Alloh.
Hal itu disebabkan karena terkadang didalam sholat dan shaum masih terselip kepuasan-kepuasan syahwat, tak jarang kita berbangga diri (takabbur) karena telah bisa melaksanakan sholat dan shaum, kemudian memandang hina orang-orang yang belum bisa melaksanakannya, atau dengan sholat dan shaum tersebut kita mencari kedudukan di hati manusia (riya), ingin disebut ahli ibadah dan lain-lain.

Sebaliknya, faqoh yang menimpa kita, tidak ada bagian syahwat didalamnya, yang ada hanya membuat kita merasa lemah dan hina dihadapan Alloh, kitapun menjadi tawadhu kepadaNya. Dalam keadaan sperti ini kita dekat dengan Alloh. Imam al Ghazali dalam kitabnya minhajul abidin mengutip sebuah hadis Qudsi

انا عند المنكسرة قلوبهم

Aku beserta mereka yg pecah hatinya

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(ال عمران ١٢٣)

"Dan benar-benar Alloh telah menolong kalian semua pada perang badar, dalam keadaan kalian (merasa) hina/lemah. Maka bertakwalah kepada Alloh, pasti kalian bersyukur (ali imron 123)

Marilah kita sama-sama belajar menjadikan faqoh sebagai sarana perbaikan diri dan jembatan untuk lebih dekat denganNya.

Tulisan ini dibuat oleh santri Ponpes Azzainiyyah